Minggu, 15 Desember 2019

Relasi Makna Jenis-Jenis Beserta Contohnya
A. Pengertian 

Relasi makna adalah hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi), dan lainnya (Abdul Chaer, 2013).

B. Jenis-Jenis Relasi Makna
1. Sinonimi
     Hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara suatu atuan ujaran dengan satuan ujaran yang lainnya.
Contoh :
Ø  Yang bisa menggantikan
Pandai = pintar
Dia pandai bermain musik.
Benar = betul
Anita menjawab pertanyaan dengan benar.
Ban = roda
Ban mobilnya bocor.
Ø  Yang tidak bisa menggantikan
Pintar x pandai
Dia pintar-pintar bodoh.
Betul x benar
Kebetulan kami bertemu di jalan.
Roda x ban
Roda kehidupan selalu berputar.

2. Antonimi
    Verhaar (1978) mendefinisikan antonimi adalah ungkapan (bisa berupa kata, tetapi dapat juga berbentuk frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain. Antonimi sering disebut dengan lawan kata, maksudnya maknanya kebalikan dari makna ungkapan lain.
Contoh :
Ø  Menjual x membeli 
Pedagang itu menjual barang dagangannya.
Dia membeli beras di warung.
Ø  Besar x kecil
Batu di sungai besar-besar.
Anak itu melempar anjing dengan batu.
Ø  Berdiri x duduk
Dia sedang berdiri di depan halaman rumahnya.
Mereka duduk di ruang tamu.

3. Polisemi
      Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, frase, ) yang memiliki makna lebih dari satu.
Misalnya kata kepala dalam bahasa Indonesia memiliki makna
Ø Bagian tubuh dari leher ke atas (seperti terdapat pada manusia dan hewan)
Ø Bagian dari sesuatu yang terletak di bagian atas atau depan yang merupakan bagian yang penting (kepala Ketera api, kepala meja).
Ø Bagian dari sesuatu yang berbentuk bulat (kepala paku, kepla jarum)
Ø Pemimpin atau ketua (kepala sekolah, kepala kantor)
Ø Jiwa orang seperti dalam kalimat “setiap kepala menerima bantuan RP. 5000.000”
Ø Akal budi seperti dalam kalimat “ badanya besar tetapi kepalanya kosong”.

4. Homonimi
     Dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya kebetulan sama, maknanya tentu saja berbeda karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan.
Contoh :
Ø  Bisa     : Dia bisa mengerjakan soal ujian itu. Dia terkena bisa ular.
Ø  Tahu    : Ibu sedang memasak tahu.Anak itu baru tahu kalau tadi malam ada pencuri.
Ø  Buku   : Andini sedang membaca buku.Belalang adalah hewan yang berbuku-buku.

5. Hiponimi
     Kata hiponimi barasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma berarti ‘nama’ dan hypo berarti’di bawah’. Jadi secara harfiah berarti ‘nama yang termasuk di bawah nama lain. Secara semantik Verhaar (1978:137) menyatakan hiponim ialah ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi kiranya dapat juga frase atau kalimat) yang maknanya dianggapmerupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain.
Contoh :
Ø  Mawar adalah termasuk jenis bunga.
Ø  Merpati merupakan salah satu jenis burung.
Ø  Ayam termasuk dalam satwa unggas.

6. Ambiguitas 
      Ambiguitas adalah ketaksaan sering diartikan sebagai kata yang bermakna ganda atau mendua arti. Pengertian ambiguitas hampir sama dengan pengertain polisemi. Perbedaanya terletak pada kegandaan makna dalam polisemi dari kata, sedangkan kegandaan makna pada ambiguitas berasal dari satuan yang lebih besar yaitu frase atau kalimat dan terjadi akibat penafsiran struktur gramatikal yang berbeda.
Contoh :
Ø  Orang malas lewat disana.
Ø  Itu adalah lukisan ibu.
Ø  Dia adalah penjahit wanita.

7. Redundansi
     Redudansi artinya sebagai berlebih- lebihan pemakaian unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya ibu membuat kue, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan kue dibuat oleh ibu. Pemakaian kata oleh pada kalimat yang kedua dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang sebenarnya tidak perlu. 
Contoh  : 
Ø petani mencangkul kebunnya, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan  petani sedang mencangkul kebunnya. Pemakaian kata sedang pada kalimat yang kedua dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang sebenarnya tidak perlu. Makna adalah sesuatu yang fononema dalam ujaran , sedangkan informasi adalah sesuatu yang diluar ujaran. Jadi yang sama antara kalimat pertama dan kalimat kedua di atas bukan maknanya melainkan informasi